Cerpen | Terlambat

By: Kurniati
25 Maret 2019
454

“Jam berapa ini?” tanya sang guru dengan tatapan tajam.

                Pagi terbiasa seperti ini. Matahari sudah terlihat mulai menyusup sela-sela awan sisa hujan semalam dan juga dedaunan tak terelakan dari basah-basah sisa terpaan hujan yang mengamuk semalaman malam tadi. Akhir musim penghujan tahun ini masih samar. Maret bergulir, hujan masih saja tak memberi ampun tanpa keraguan menyerbu permukaan tanah sewaktu-waktu, terkadang mereka takut hingga harus ditemani oleh kawanan petir. Matahari terlihat kuning. Kupu-kupu berwarna kuning mulai bergepak sayap-sayapnya. Seorang gadis membuka pintu reyot dari kayu yang mulai lapuk termakan usia, tengahnya bolong dimakan rayap sepanjang duabelas senti.

                Memandang langit, dia bergumam lirih, “pagi ini cerah. Tak perlu aku membawa payung.”. Terdengar suara besi bergesek, dia mengeluarkan sepeda mini pemberian tetangganya yang baik hati sejak dia masih SD. Rodanya berkarat, jari-jarinya lebih terlihat seperti lidi habis terendam lumpur. Keranjangnya peyot dan beberapa bagian sudah mulai prampang. Dia menuntun keluar, terdengar besi bergesek kembali. Ternyata pedal sepedanya bergesek dengan penutup rantai. Cuma bagian itu yang paling mengkilap dari sepedanya, bekas gesekan antara pedal dengan penutup rantai.

                Bajunya lusuh, seperti tidak disetrika, terdapat banyak guratan, dan bekas cucian yang menandakan bahwa dia mencuci baju dengan air yang kuran bersih. Sepatunya terlihat seperti sudah sangat lelah berjuang melindungi kaki majikannya. Kaus kakinya kendor sebelah karena karet yang ia gunakan putus. Dia mulai menaiki sepedanya, mengayuh berat kedua pedal yang terus berbunyi bergesek dengan penutup raintai. Sesekali kayuhannya terganggu dengan paku pedal yang mulai kendur, membuat pedal tidak berputar dengan sempurna.

                Masih pukul 6.00 pagi ini. Waktu yang masih terlalu pagi untuk anak yang berangkat sekolah. Namun apalah daya. Jarak rumah dengan sekolah anak itu belasan kilometer. Melewati tiga kecamatan, dan menyebrang jalan raya. Hawa masih terasa basah. Kendaraan masih jarang yang lewat karena memang jalan itu jarang dilewati kendaraan bermotor. Jalan lurus, rusak tergerus hujan yang sudah bertahun-tahun tak diperbaiki. Melintang membelah persawahan dengan padi yang sudah kuning, dan beberapa sudah banyak yang di panen.

                Kayuhan sepedanya masih setia meluncurkan dua roda yang sudah berkarat tadi. Suara perutnya berbunyi berdampingan dengan gesekan pedal dengan penutup rantai. Dia tak pernah sarapan sepagi ini. Neneknya lebih dulu keluar menjual donat dan pisang molen mini di pasar pagi untuk mencukupi kebutuhannya dan cucu kesayangannya itu, serta membayar biaya pendidikan cucunya itu. Dan lagi itu, tak ada bahan makanan yang bisa di masak untuk sarapan. Neneknya baru akan membawa bahan untuk dimasak sepulangnya dari pasar sekitar jam sembilan.

                Sepedanya masih berbunyi, perutnya yang sudah lelah berbunyi. Ini baru separuh jalan. Dia mulai memasuk jalan besar. Disini sudah mulai banyak kendaraan lewat. Anak-anak sekolah sudah banyak yang melewati jalan itu. Ada yang bersepeda, sepeda motor, atau ada kendaraan yang membawa sayuran lewat. Dia masih sendiri mengayuh sepedanya. Melewati perkampungan yang sudah mulai modern dengan rumah gedong yang megah, karena banyak warga kampung itu merantau ke negeri seberang selepas lulus sekolah.

                “Mba Kanthi, sekolah nggeh mbak?” sahut salah seorang ibu-ibu yang sangat suka dan berlangganan donat dan pisang molen mini neneknya. Baik untuk dimakan sendiri,  ataupun jika ada pengajian dirumahnya, dia selalu memesan donat dan pisang molen si nenek. Anak itu menganggukkan kepala dan melemparkan senyum sambil tetap mengayuh sepedanya. Dia mengambil botol minum di keranjangnya, dan meminum untuk membasahi kerongkongannya yang terkuras selama dia mengayuh sepedanya.

                Ditengah kayuhannya, dan suara gesekan pedal dan penutup rantai, setelah lepas dahaganya, dia sampai pada jalan Raya yang menghubungkan tiga propinsi. Kendaraan yang melewati jalan ini sangat berbeda jauh dengan jalan yang ia lewati sebelumnya. Untuk menyebrang jalan itu, dia perlu dibantu oleh seorang petugas yang memang bertugas untuk membantu menyebrangkan anak-anak sekolah yang akan lewat jalan itu.

                “agak siangan mbak?” sapa petugas itu dengan senyum ramah yang keluar dari wajahnya yang tegas, hitam terbakar matahari karena tugasnya.

                “nggeh pak” jawabnya dengan membalas senyumannya. Petugas itu hafal karena setiap pagi anak itu menyebrang jalan itu dengan sepedanya. Dari situ, dia akan masuk ke perkampungan lagi dengan jalan yang gelap dan lembab tertutupi rumpun bambu.

                Udaranya terasa basah. Air masih menggenang di lubang-lubang jalan di kampung itu. Roda sepedanya masih merayapi ruas jalan kecil, berbelok dan banyak gang-gang kecil. Jalan itu sepei, hanya beberapa anak sekolah yang lewat. Dia terkadang menarik nafas panjang mengatur nafasnya selama ia mengayuh. Sesekali diambilnya lagi botol minumnya dari keranjang sepedanya untuk kembali membasahi kerongkongannya. Riuh gesekan pohon bambu terdengar jelas. Terkadang sinar matahari menyusup diantara rindang dedaunan pohon bambu yang terlihat masih sedikit basah. Diseberang sungai terilhat kepulan asap dari salah satu rumah kayu yang terlihat hampr roboh, mengingatkan anak itu kepada rumah neneknya yang ia tinggali.

                Sepedanya masih berbunyi, terkadang ada bunyi yang aneh dari sepedanya. Mungkin karena bole-bola pelor di roda sepedanya sudah usang dan tidak bulat lagi. Samar tercium aroma ikan asin yang digoreng, memancing perutnya kembali bersuara. Ya, dia belum sarapan. Diteguknya kembali air dari botolnya untuk menenangkan bunyi di perutnya.

                Lama berselang, akhirnya dia sampai di sebuah gerbang besi berwarna hijau, tingginya dua kali lipat orang dewasa. Jarang tempat parkir dari gerbang itu masih seratus meter. Dia menyadari kalau dirinya sudah terlambat. Suara doa dari pengeras suara sudah berkemandang lantang dan tegas. Dia meletakkan sepedanya, lalu berlari menuju kelasnya yang cukup jauh. Dia memasuki lorong-lorong kelas, menaiki tangga dan bertemu beberapa siswa yang berlarian juga. Dia berdiri di depan kelas, pintu kelasnya kayu berwarna hijau kasar, sudah tertutup menandakan sudah ada guru yang mendampingi berdoa pagi. Lima menit dia berdiri, bel sekolah tepat pukul tujuh berdering menyaut suara doa pagi dari pengeras suara di kelas-kelas. Dan beberapa menit kemudian, doa pun selesai.

                Dengan wajah tertunduk, dia memberanikan diri mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Dilangkahkan kakinya yang masih bergetar karena berlari tadi, kaus kakinya yang kendor tertutup roknya yang panjang. Sang guru menatap tajam dan melontarkan pertanyaan sebelum anak itu sempat meminta maaf karena terlambat.

                “Jam berapa ini?” tanya sang guru dengan tatapan tajam. Dengan menunduk, dia berkata lirih.

                “Maaf, bu. Saya terlambat.”

                “saya sudah tau kalau kamu terlambat. Silakan baca doa sendiri di depan kelas. Jadi anak sekolah harus disiplin waktu. Mau jaddi apa negara ini kalau anak mudanya tidak tepat waktu.”

                “Maaf, bu.” Anak itu hanya bisa mengatakan maaf.

                “setelah berdoa, minta surat ijin masuk ke guru BP.” Sambung guru itu. Dengan menunduk, dikumandangkannya doa pagi sendirian di depan kelas dengan hati yang agak terasa masam.

 

Cerpen ditulis oleh salah satu siswa SMK Tamtama Karanganyar yang dikirimkan kepada Tim Redaksi The Pen.


Kurniati

Content Creator | Kelas OTKP2 2017, Anggota Patroli Kemanana Sekolah, Mentor of Tamtama English Club

Komentar
Tinggalkan Komentar

Create Account



Log In Your Account